“Practice Makes Perfect”

Posted on October 18, 2011

0


W A K T U   S E N G G A N G

talent: Rizkya A. Karnaen dan Devi S. K. Dewi
photographer: Nazta Saari
EOS 550D 32mm ISO-3200 f/14 1/250sec.

Foto diatas diambil Hari Minggu lalu, 16 Oktober 2011. Seperti yang sudah kuceritakan di post sebelumnya, aku sedang menyelesaikan tugas Photography Communication dan akupun menjadi tertarik dengan fotografi. Dibantu oleh Devi dan Kiki, akhirnya tugasku pun selesai.

Kami melakukan pemotretan dari subuh hingga petang. Tentunya siang hari kami istirahat sejenak. Awalnya hanya Devi, tapi lalu Kiki ikut berkumpul dengan kami di sore hari. Hari yang sangat menyenangkan dan kamera-ku pun menghasilkan gambar-gambar yang menawan. Ini adalah bentuk latihanku.

Bukan foto yang ingin kuceritakan kali ini, tapi mengenai kata-kata yang kujadikan sebagai judul untuk post-an kali ini. Practice makes perfect. Kali pertama aku mendengar kalimat itu adalah dari seorang guru disebuah institut bahasa asing yang kunaungi. Guru kami, sering berkata “Practice makes perfect, don’t worry about mistakes, they come and go” dan kata-kata “Practice makes perfect” ini selanjutnya sering kudengar dibeberapa tempat.

Awalnya, aku menyangka hanya untuk didalam bidang berbahasa saja kita harus berlatih giat untuk mencapai kesempurnaan (bagiku kesempurnaan adalah sesuatu yang relatif, karena kemampuan seseorang itu terbatas, dan kesempurnaan itu bisa jadi terlihat dengan dibantu oleh kemampuan, sedangkan kemampuan sendiri, tidak melulu dalam bentuk finansial). Tapi ternyata tentu tidak.

Saat itu aku baru saja memasuki bangku SMA, aku ingat hari itu adalah hari pembagian laporan hasil belajar pertama siswa-siswi sekolah kami. Seperti biasa, mama lah yang mengambil laporan nilai ku. Seperti biasa, setelah mengambil laporan nilaiku, mama mulai me-review dan memberiku nasihat-nasihat. Mama juga seperti biasa bercerita satu-dua cerita yang biasa ia jumpai saat mengambil laporan nilaiku (cerita ini biasanya lebih ke perbandingan nilaiku dengan teman yang lebih tinggi dengan tujuan aku termotivasi untuk mencapai nilai yang lebih tinggi lagi). Tapi selain cerita, mama juga bercerita tentang salah seorang temanku yang terkenal pandai pelajaran matematika. Mama berkata, ibu temanku itu (mungkin bisa kita sebut namanya sebagai Oka) berkata bahwa putrinya tidak pandai. Sewaktu SD apalagi SMP, tidak pernah putrinya, Oka mendapat peringkat sepuluh besar, apalagi pertama. Namun ketika itu, beberapa orang ada yang mengejeknya, dalam hati, Oka mendendam, dendam disini adalah suatu yang mengarah ke positif, ia ingin membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa, ia dapat meraih nilai bagus dan tentu saja bisa menjadi juara kelas. Semenjak itu, Oka berniat untuk memajukan dirinya, ia berlatih keras. Setiap harinya, tidak ada waktu tanpa belajar. Mencari soal dari buku-buku dan mengerjakannya. Disekolah kami, Oka terkenal pandai matematika. Suatu ketika aku pernah menyodorinya sebuah soal yang ku rasa sulit, baru melihat, Oka langsung bisa mengerjakannya. Saat mengerjakan soal, Oka terlihat sangat serius dan bersungguh-sungguh. Dan yang lebih membuatku kagum adalah, ia tidak pernah enggan mengajari siapapun yang datang bertanya kepadanya.

Pandai. Cerdas. Pintar. Dan kata-kata lain yang melambangkan superioritas otak dalam bidang akademik sepertinya mendominasi dunia. Pernah suatu ketika seseorang bahkan mendefinisikan sukses adalah nilai yang tinggi kepadaku. Aku rasa tidak seperti itu. Karena manusia diciptakan berbeda dan banyak sekali jalan untuk meraih suksesnya manusia.

Cerita Oka tadi merupakan gambaran pencapaian kesempurnaan yang disebabkan oleh berlatih. Allah memang memberikan bakat untuk tiap-tiap manusia. Bakat yang berbeda yang mungkin belum kita temukan dan kembangkan dalam diri kita.

Beberapa saat sebelum lulus SMA, guru kami membawa kami kesebuah acara motivasi, dimana pembicara berkata bahwa diri kita akan menjadi seperti apa yang kita yakini. Maksudnya, ketika kita berkata “tidak bisa” padahal kita belum mencoba maka asumsi yang ada didalam kepala kita adalah “tidak bisa” ini yang menyebabkan kita tidak percaya diri untuk memulai dan bahkan tidak menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Latihan adalah cara untuk mengasah semua itu, baik bakat maupun percaya diri.

Dosen Photography Communication-ku pernah bekata, bahwa seseorang akan menjadi jenius (pada bidangnya) apabila ia telah melalui lebih dari 10.000 jam untuk menekuni kegiatannya. Jadi, jangan takut, mulai dan berlatihlah. Practice makes perfect🙂