4.10.2011 : Camera

Posted on October 4, 2011

0


C A M E R A

camera: fujinon lens DL-190 ZOOM
photographer: Nazta Saari
EOS 550D 57mm ISO-3200 f/5 1/10sec.

Salah satu benda lain yang tersimpan dalam lemari pakaianku adalah kamera tua ini. Kamera Fuji DL-190. Kamera tua ini menyimpan hampir semua kenangan manis hidupku. Sewaktu kecil, aku hanya beberapa kali saja merayakan ulangtahunku, tapi foto-fotonya banyak. Semua foto itu diambil oleh ibuku menggunakan kamera ini dan sebuah kamera lainnya yang disimpan dilemari pakaian ibuku. Kedua kamera ini sudah rusak. Kemarin sewaktu iseng kuhidupkan lagi kamera ini lalu yang ada hanyalah suara desis aneh sementara lampu kamera berkedip-kedip. Terpaksa kujauhi hingga tenang (?) lalu melepaskan batrenya karena takut meledak.

Bicara tentang kamera, aku memiliki hobby baru yang mudah-mudahan bukan sekedar euforia saja. Hobbynya adalah fotografi. Ini semua karena pelajaran Photography Communication yang baru kuterima disemester ini. Ditambah Om Aris dalam pertemuan kami berminggu-minggu lalu bercerita tentang banyak hal mengenai hobby-nya yang satu ini. Om Aris menekuni dunia fotografi juga. Ia sudah profesional dan menjadikan fotografi sebagai pekerjaan sampingannya. Om Aris terlihat menikmatinya dan aku harap akupun tidak sekedar suka sesaat saja.

Kembali ke topik awal, Kamera tua ini sebelumnya tidak pernah kupegang. Papa dan Mama adalah orang yang apik dalam menjaga barang, ketika aku SMP aku baru diperbolehkan membawa kamera ini dengan catatan aku bertanggungjawab penuh atas kemungkinan terburuk yang dapat terjadi. Kamera ini biasanya disimpan didalam lemari baju. Dulu kami tidak tahu bahwa menyimpan alat-alat seperti kamera tidak bisa ditempat lembab seperti lemari pakaian, makanya sekarang aku lebih merawat kameraku, namun sekarang kamera tua ini sudah rusak.

Meski begitu aku masih ingat cerita pertamaku memakai kamera ini. Saat itu ada study tour disekolah kami. Taman Mini Indonesia Indah. Itu adalah kunjungan keduaku ke TMII. Kunjungan pertamaku adalah dengan Mama, Papa dan Kiza tidak lama setelah aku memeriksakan sakit punggungku sekitar tahun 2005-2006. Saat itu kamera terisi rol film sebanyak 36. Rasanya senang sekali bisa foto-foto dengan kamera itu. Terkesan wah. Saat itu aku tidak tahu dalam penggunaannya aku tidak bisa goyang atau terkena cahaya berlebihan. Aku rekam hampir seluruh kejadian yang ada sampai film-nya habis dan aku harus membeli film lainnya disana. Aku foto semua teman-temanku. Aku mainkan zoom in – zoom out -nya tanpa mengerti lebih banyak. Aku foto semua gerakan lucu. Semuanya. Keesokan harinya, buru-buru kucetak foto itu. Studio foto letaknya tidak jauh dari sekolah kami, saat ini studio itu sudah tutup dijadikan toko furniture, waktunya sekitar 3 sampai 7 hari untuk mencetak. Aku tunggu hasilnya dengan tidak sabar. Tapi aku harus menelan kekecewaan karena foto yang dihasilkan benar-benar tidak bagus. Buram, lari, bahkan ada yang sama sekali tidak jelas. Dari sana aku berniat untuk lebih berhati-hati dalam mengambil gambar. Rasanya tidak enak melihat wajah teman-temanku menjadi buram seperti itu😦