Keluhan dan Keluhan dan Apa yang Tidak Diluluskan Orangtuaku

Posted on September 15, 2011

0


Semakin lama, aku jadi semakin terbiasa curhat di blog ini. Aku cerita apa yang belum tentu aku ceritakan ke teman-temanku. Aku sendiri merasa nyaman berbagi pada oranglain yang tidak aku kenal. Karena blog ini juga hanya blog personalšŸ˜€ Kalau ada yang baca gimana? Apa yang aku tulis toh memang untuk di bagišŸ™‚ Hanya saja dalam kehidupan nyata aku lebih nyaman mendengarkan cerita orang daripada menceritakan cerita ku.

Pertama-tama aku ingin berterimakasih dengan temanku yang kuliah di fakultas kedokteran. Aku sangat terbantu dengan mata kuliahnya. Seperti yang mungkin kalian sering baca, aku sering sekali mengeluh tentang ini dan itu yang ada dibadanku. Aku sering sakit ini itu, pusing, sakit mata, sakit telinga, sakit punggung tapi sangat jarang untuk periksa ke dokter. Aku lebih memilih mengobatinya sendiri dengan obat biasa atau dibawa tidur. Tapi dengan temanku yang kuliah di kedokteran ini, pengetahuanku jadi meningkat tajam dan aku secara gratis bisa konsultasi. (Makasih ya temen, kamu baik banget, kalian juga dong cari temen calon atau dokternya sekalian :D)

Semalam misalnya, pulang dari jalan-jalan, seperti yang aku ceritakan, keluhanku masih seputar punggung dan kepala. Sepulang dari jalan-jalan, pandanganku tiba-tiba kabur, setelah normal giliran kepalaku yang sakit. Lalu dia bilang aku kurang tidur dan harus secepatnya tidur. Aku turuti dan Alhamdulillah akupun sembuh. Beberapa hari yang lalu, mata sebelah kiri ku sakit bukan main. Katanya itu gejala flu (sok tau banget ya, tapi aku juga ceritakan semua yang kurasakan menggunakan bahasaku) dan memang benar, rasanya tidak selang beberapa lama mataku sakit ditambah hidung tersumbat! Akhir-akhir ini keluhan punggungku semakin menjadi-jadi. Sehingga sering sakit punggung dibarengi dengan pusing. Rasanya seperti makin parah. Karena bukan bidang temanku, temanku tidak banyak memberi saran.

Tapi dalam setiap keluhan punggungku, ia selalu bertanya “Udah diperiksa belom sih?” dan jawabanku masih sama, Belum. Sebenarnya alasannya mudah saja untuk dipikirkan, tapi tidak mudah rasanya menjelaskan alasan itu dengan kata-kata. Ibuku bilang aku akan baik-baik saja dan aku percaya itu. Dulu papa memberikan aku secarik kertas berisi potongan artikel koran dimana disana terdapat gambar tulang belakang dengan pin-pin atau besi-besi sepertinya mereka menekan tulang punggung dengan sangat Ā kuat, pin-pin itu seperti sekrup atau apa ya, seperti sesuatu yang biasa dilihat dibarang elektronik dan itu cukup untuk membuat aku terperangah. Papa bilang, papa mau saja meluluskan permintaanku untuk operasi, tapi papa begitu takut ketika melihat gambar dikoran itu. Beliau tidak bisa membayangkan bagaimana punggung anaknya akan ditanam benda yang bisa jadi sebesar ruas jari dan bukan hanya satu, tetapi sepanjang tulang punggung! Beliau hanya merasa takut (oke, ngenang papa jujur bikin mataku basah, karena aku ingat betul artikel itu diberikan sewaktu kami sedang dalam rumah pengobatan papa di Bogor).

Beberapa tahun lalu, aku memang sering mengeluh tentang punggungku, bukan mengeluh karena sakitnya. Tapi lebih kepada memaksa. Memaksa aku ingin diperiksa karena ingin memiliki tubuh sempurnah seperti oranglain. Aku tahu, maaf mama, papa, kalian pasti sakit rasanya dulu waktu aku meminta dengan memaksa seperti itu.. Aku tahu, maafkan nafsu yang membakar hatiku saat itu ya..

Orangtuaku tentu memiliki pertimbangannya sendiri untuk mengambil sikap, walau ada kalanya hati ini egois dan tidak mendengarkan suara lain, menginginkan kemauanku selalu dituruti dan ini tidak benar. Keluargaku, bukan dari orang yang sangat mampu sekali. Kami pun bukan tipe keluarga yang mementingkan perkembangan zaman diatas segalanya. Maksudku, kami dapat menahan sebisa mungkin apa yang kami inginkan dan tidak begitu dibutuhkan. Meski begitu, orangtuaku hampir tidak pernah berkata tidak untuk permintaan anak-anaknya. Apalagi permintaan yang mendukung masa depan dan pendidikan anaknya.

Seperti permintaan operasi tulang belakangku meski tidak diluluskan, jika aku memberitahu mereka keinginanku, aku yakin mereka akan meluluskannya. Papa adalah orang yang loyal dan tidak bisa mengontrol pengeluaran. Minta apa? Ambil! Mungkin karena itulah aku dan adikku lebih memilih jalan bersama papa. Mama adalah pengontrolnya. Bukan berarti mama pelit. Aku rasa semua ibu selalu mempertimbangkan pemasukan dan pengeluaran lebih matang dari pada semua ayah. Dan mama memerankannya dengan sangat mulus. Ia menjadi ibu yang baik.

Suatu ketika kami berempat menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan. Aku adalah seorang penggemar cardigan, melihat sebuah cardigan berlengan super panjang dengan bahan lembut bewarna putih agak keemasan membuat aku jatuh cinta. Aku tidak melihat harganya namun papa langsung berkata “Ambil”. Aku girang setengah mati dan mencoba beberapa cardigan yang lain. Tapi mama tidak akan diam. Ia berkata bahwa kalau tidak beli cardigan, aku bisa membeli benda lain. Buku, Cardigan itu senilai 3 buah buku. Buku yang bisa aku habiskan untuk satu bulan! Maka akupun tidak jadi beli.

Tapi tidak semua permintaan di kontrol oleh mama. Salah satu alasan mengapa papa selalu meluluskan hampir seluruh permintaan kami menurutku mungkin adalah karena baik aku dan Kiza bukanlah orang yang senang meminta. Mama apalagi. Kami tidak suka meminta dibelikan baju, kami membeli baju biasanya hanya pada saat lebaran. Kami tidak minta dibelikan tas kecuali tas kami sudah robek dan sebelum tas kami robek pun papa sudah mengajak kami membeli yang baru. Aku rasanya tidak pernah meminta gitar, keyboard dan piano, tapi mereka ada begitu saja untuk kami. Maka ketika kami meminta baju, papa mau membelikannya.

Seperti kataku tadi, orangtua memiliki pertimbangan yang tentunya diimbangi dengan kasih sayang. Setelah menjanda, mama tidak punya uang sebanyak dulu. Karena dulu penghasilan keluarga kami datang lebih banyak dari papa, dan kami pun tidak buta tentang hal itu. Namun mama masih sempat meluluskan permintaan adikku untuk memagari giginya yang rencananya akan dipagari sabtu besok, mama sempat bertanya apakah aku mau juga atau tidak, tapi pola pikirku sudah tertanam seperti ini; masih banyak keperluan lain selain itu (memagari gigi? Aku lebih memilih memagari punggungku :p) tapi tidak, serius, ini bukan tentang punggungku yang sakit atau bagaimana, karena aku sama sekali tidak iri.

Dan setelah melalui pertimbangan yang lama, aku rasa sekarang aku makin yakin bahwa papa dan mama sayang denganku sehingga memilih untuk tidak mengoperasikan diriku. Meski begitu, rasanya wacana ‘singkat’ ku tidak sepenuhnya mewakilkan apa yang ingin ku jelaskan kepada kalian. Tentang orangtua dan kasih sayang mereka? Tentu saja! Tentang mengapa diriku tidak diperiksa? Ini pun iya! Karena jujur saja, meski ada keinginan, aku tidak pernah meminta mama untuk membawaku kerumah sakit. Karena dalam pikiranku, kelainan tulang belakang ini mungkin menyiksaku tapi akan menyiksa ibuku jika aku memberontak dan malah meminta lebih kepada ibuku.

Aku sangat berterimakasih karena aku berada dilingkungan yang seperti ini. Aku bersyukur dengan segala yang kumiliki sekarang. Kalau kata Marsyanda di drama Dari Sujud ke Sujud sih “seharusnya mama bangga karena anaknya diberi tanggungjawab untuk memikul penyakit ini” Seharusnya aku bangga dan tidak mengeluh.

So, Tasya, hentikan keluhan nggak wajar tentang pemeriksaan punggungmu, Please, karena jauh dalam lubuk hatimu, kamu tahu bahwa ada alasan dibalik semua yang dilakukan orangtuamu.

Mungkin ini agak panjang, dan kalian pegal membacanya, tapi ambil positifnya, aku berbagi, dan aku yakin setiap cerita memiliki pesan moral yang dapat dibagi. Meski tulisanku terlalu panjang dan bertele-tele atau mungkin tidak berkenan dihati pembaca? Maaf sekali. Inilah aku dan kehidupan yang kucintaišŸ™‚

Posted in: My Journal