Buku: Perhaps You.. Hanya Cinta Yang Bisa oleh Stephanie Zen

Posted on September 8, 2011

2


Well, finally I finished Stephanie Zen’s Perhaps You😀 Setelah beberapa pekan yang sibuk akhirnya aku menyelesaikan juga buku karya kak Stephanie Zen ini. Seharusnya aku bisa menyelesaikan lebih cepat, tapi karena beberapa minggu terkahir selalu sibuk dan waktu berleha-leha yang semakin meningkat membuat aku lambat menyelesaikannya. Tapi untungnya sekarang sudah selesai, jadi aku bisa berbagi apa yang aku baca. 3 dari 5 bintang kurasa cukup mewakili perasaanku pada buku ini.

Perhaps You.. Hanya Cinta yang bisa

Penulis: Stephanie Zen
Editor: Kinanti Atmarandy
Bahasa: Indonesia
Tebal: 442 Halaman
Penerbit: Gagasmedia
Paperback, cetakan I, 2011

Menjadi Abby Jusuf (Abrielle Estefania Jusuf) bisa jadi adalah suatu kebanggaan. Selain anak dari pemilik perusahaan Citilights, sebuah perusahaan distributor tunggal lampu Oaks, Jerman, Abby juga bukan anak biasa. Tumbuh dengan otak yang sangat cerdas menjadikan ia seorang sarjana diusianya yang belia. Untuk melanjutkan usaha keluarga, selesai menuntut ilmu di Singapura, Abby lantas pulang ke Indonesia dan bekerja dalam perusahaan ayahnya sebagai pegawai administrasi.

Abby Jusuf adalah sosok yang serius dalam mengerjakan sesuatu. Sosok yang disiplin dan pekerja yang ulet. Dalam waktu singkat, Abby dapat menyesuaikan diri dalam perusahaan serta mendapat reputasi yang baik bukan karena statusnya sebagai anak pemilik perusahaan. Di Citilights inilah Abby merajut persahabatan dengan Sandra, seorang wanita muda asal Bandung yang belakangan menjalin hubungan yang tidak semestinya dengan seorang bernama Daud.

Penampilan yang menarik serta cerdasnya otak tidak menjadikan Abby terlena dalam urusan pacar. Abby bahkan belum pernah berpacaran. Selama ini ia membelenggu dirinya dengan sosok yang selalu bermain-main di kepalanya, Daniel. Adalah seorang teman yang ia sukai saat berada di bangku SMP. Abby berpikir bahwa ia tidak akan pernah terlepas dari Daniel meskipun semenjak lulus hingga saat ini Abby belum pernah berkontak lagi dengan Daniel. Salah satu alasan mengapa Abby tidak bisa menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Namun perkiraannya salah begitu Chris datang dalam kehidupannya.

Tentu saja awalnya Abby tidak menanggapi Chris, namun seiring berjalannya waktu dan pesan-pesan singkat yang mereka saling tinggalkan, Abby pun terlena dan menjadi ketergantungan akan Chris dan bahkan melupakan perasaannya kepada Daniel. Meski begitu Abby tahu bahwa adalah kesalahan besar menyukai Chris yang sudah memiliki pacar. Sementara itu, diam-diam sebuah benang yang tak terlihat sudah mengikat mereka dalam sebuah takdir.

Awalnya aku tidak mengerti mengapa sub-judulnya adalah ‘Hanya Cinta Yang Bisa’, namun pada akhirnya harus aku akui bahwa memang hanya cintalah yang bisa membuat orang terlena hingga lupa diri, salah tingkah, dan segala macam kegilaan lainnya. Digambarkan dari sosok Abby yang tidak lain adalah orang kedua dalam hubungan Chris dan pacarnya. Menjadi Abby tentu tidak mudah. Disatu sisi ia ingin memiliki Chris seutuhnya namun ia tahu ia tidak bisa berbuat banyak untuk mendapatkannya sementara seorang wanita pilihan Chris sudah lebih dulu bersamanya (Oh my.. kenapa bahasa aku puitis banget -,-).

Abrielle Jusuf tentu adalah karakter idaman semua orang. Sangat sempurna dan membuat orang menjadi iri. Namun kesempurnaan itu seketika menghilang ketika ia merasakan kembali jatuh cinta. Aku merasa membaca Abby yang berbeda di awalan dan akhiran cerita. Meskipun begitu, aku suka detil yang diceritakan dalam buku ini. Kejadian serupa namun tidak sama tentunya sering terjadi dalam kehidupan kita. Merasakan jatuh cinta, yang mungkin juga tidak dengan pacar orang, hanya jatuh cinta saja memang membuat perasaan naik-turun. Stephanie Zen menggambarkannya dengan gamblang dan nyata. Dibalut dengan kehidupan social network, cerita Stephanie Zen ini seperti hidup. Akupun bahkan sempat diaduk-aduk membaca instant message, tweets, dan segala yang ada dibuku ini. Membacanya, membuat aku seperti membaca rahasia pribadi orang, ada penasaran yang menggelitikku. Ditambah dengan bahasa sehari-hari yang digunakan.

Entah mengapa, bagiku buku ini menceritakan dua kisah yang sama namun berbeda. Kisah Sandra yang tidak banyak disinggung justru menyita lebih banyak pikiranku.

Link terkait:

Posted in: Book Review