[Cerpen] Manika Sayang

Posted on September 7, 2011

0


Manika Sayang

Oleh: Nazta Saari

Adikku, Manika, adalah gadis kecil yang manis dan rapuh. Semua orang, hampir semua orang menyukainya. Setiap orang yang melihatnya, pasti akan melihatnya lagi dan lagi, Manika seperti memiliki magnet penarik.

Lihat saja ia, mata bulatnya mendominasi wajah dengan pipi tembam kemerahan. Matanya begitu jernih, kata orang daya pikat Manika ada pada matanya yang bulat dan bersinar, setiap kali ia memandang seseorang, Manika selalu memandangnya langsung kedalam. Ramah, adalah hal yang langsung tertanam diotak kebanyakan orang setelah mereka berpandangan. Matanya cokelat tua dengan hitam pekat kecil ditengahnya. Seolah ingin membuatnya menyala, mata itu seperti dibungkus plastik perak tipis. Setiap orang mengagumi mata Manika.

Pipinya tembam seperti yang kubilang tadi. Dengan semburat merah yang entah kenapa selalu keluar hanya dipipinya. Merona. Hanya dipipi Manika. Seperti ibu saat memakai make-up. Hidung Manika tidak begitu mancung. Kecil dan proposional mungkin. Sewaktu kecil, aku ingat betapa aku kasihan dengan Manika karena hidungnya yang kecil. Aku takut ia tidak bisa bernafas. Tapi orangtua kami selalu mengagumi Manika. Segala kelembutan wajah itu dibingkai oleh rambut lurus panjangnya yang dibiarkan tergerai dengan hanya mengenakan bandana. Manika menyisipkan selembar kain yang dilipatnya sedemikian rupa dikepalanya hingga ia seperti kado yang dibukus.

Penampilan Manika juga selalu mengundang rasa penasaran. Ia memakai gaun terusan yang besar hingga sepertinya tenggelam didalam gaunnya. Manika kadang memakai celana. Celana yang besar hingga harus dilipat ujungnya. Aku kira cara berpakaiannya kuno, tapi orang-orang bilang Manika sangat imut. Sangat manis. Manika seperti boneka porselen.

Tapi itu semua memang benar, Manika seperti boneka porselen. Ia seperti boneka yang berada dalam kotak kaca. Begitu manis dan rapuh. Melihat kesekitar dengan senyum yang selalu mengembang dan matanya yang besar. Orangtuaku dan orang-orang disekitarku selalu mengagumi Manika. Apapun yang ia pinta selalu diwujudkan. Mereka sepertinya tidak mau membuat Manika sedih. Orangtua kami selalu memanjakan Manika. Dulu..

Sekarang agak berbeda.

“DIAM DISITU!”, hardikku kepada boneka porselen yang telah bisa bermain-main. Ia tertawa renyah namun masih membuatku kesal.

Manika memandangku dengan mata bulatnya dan berlari mengitari ruangan. Sesekali ia terjatuh karena roknya yang kebesaran. Namun sesegera mungkin ia akan bangkit dan berkelit dari kejaranku. Saat ia lolos, ia akan menjulurkan lidahnya dengan sangat nakal. Tidak ada boneka porselen yang bisa menjulurkan lidah senakal Manika. Manika berlari memasuki kamar bayi. Ruangan yang selalu kosong sejak dulu.

Aku mengejarnya dan mendapati ia tengah bersembunyi dikolong box bayi. Aku berjongkok sepelan mungkin. Kulihat Manika disana memeluk lututnya. Matanya terpejam dan senyum nakal menghiasi wajahnya. Kutepuk pipinya perlahan dan begitu melihatku ia berteriak sangat keras.

“Kemari anak nakal!”, ucapku menyeret Manika. Manika memang manis, tapi menyebalkan, “Susah amat sih diaturnya!”, omelku. Kugendong tubuh gemuk Manika yang langsung memberontak. Tapi lantas kujewer telinganya hingga ia menangis.

Aku menjatuhkan Manika dikursi kecil ruang makan. Manika mulai menangis luar biasa menangis. Ia boneka porselen yang rapuh, mudah membuatnya menangis.

“Makan”, ucapku menyendokkan nasi dengan lauknya kedekat mulut Manika. Meski ia tidak berhenti menangis, ia menuruti kata-kataku. Tangisnya begitu kencang ketika aku menyedaknya dengan sendok makan. Aku begitu kesal. Manika selalu menolak untuk diberi makan. Dimandikan, disuruh belajar. Manika hanya mau bermain dan tidur-tiduran dibawah box bayi yang sudah tidak lagi muat dengan tubuhnya! Dan aku? Aku bertugas memastikan dan membujuk Manika melakukan segalanya.

Orangtua kami bercerai sewaktu Manika masih sangat lucu. Saat itu aku tidak mengerti mengapa hilangnya ‘Manika kedua’ bisa membuat orangtua kami berpisah. Tapi seiring berjalannya waktu aku mengerti bahwa bukan hilangnya adik kecil kamilah yang membuat mereka berpisah. Kami tinggal bersama ibu kami. Ayah jarang sekali menengok kami. Padahal Manika dulu dekat dengan Ayah.

Ibu tidak pernah punya waktu yang cukup untuk kami. Ibu kami bekerja serabutan pergi pagi pulang malam demi kami. Saat  ibu pulang Manika sudah terlelap, saat ibu akan berangkat bekerja, Manika belum terbangun. Itu mungkin yang menyebabkan Manika yang berusia 7 tahun lebih mengenal diriku yang baru menginjak usia 16 ketimbang ibu kami.

Manika masih menangis sangat kencang akibat jeweranku. Selesai menghabiskan makanannya, Manika berlari kekamar bayi. Dan dugaanku, Manika kembali tidur-tiduran dibawah box bayi. Manika selalu melakukan hal itu saat sedang sedih. Aku mencuci piring-piring kotor tanpa memerhatikannya.

Aku sendiri tidak pernah memiliki rasa yang khusus terhadap Manika. Orang bilang, perceraian ini dapat berakibat buruk bagi Manika. Tapi aku masa bodoh. Masih banyak urusan yang lebih menyita pikiranku dari sekedar Manika. Sejak Manika lahir, perhatian orangtuaku saja sudah tertuju habis-habisan untuk Manika. Dan ketika aku remaja, orangtuaku malah sudah tidak memedulikan kami. Sekolah dan temanku kurasa lebih baik dari Manika. Manika toh sudah mendapatkan segalanya. Manika manis dan cantik dan gemuk. Ia disukai semua orang, tidak seperti aku.

Jam menunjukkan pukul dua ketika aku selesai mencuci piring kotor. Jam dua adalah waktu Manika tidur siang. Aku harus membuatnya terlelap jika tidak ia akan kelelahan dan rewel dimalam harinya. Aku membuka pintu kamar bayi dan melihat Manika berusaha menaiki badannya ke box bayi. Melihatku, ia tersenyum sambil berkata..

“Bantuin teh, aku mau naik”

Aku tersenyum dan menggendong Manika. Selalu aku berpikir Manika telah mendapatkan apapun, tapi jauh dalam lubuk hatiku, aku tahu ia hanya boneka porselen yang rapuh. Meski masih kecil, ia tidak buta. Matanya yang jernih bukanlah manik-manik hiasan yang tidak bisa melihat. Ia melihat segala sesuatu yang terjadi didepannya. Telinganya juga bukan lilin yang kaku dan dingin. Ia mendengar apa yang kami semua katakan. Dan jauh didalam pakaiannya yang layaknya boneka, Manika memiliki apa yang tidak dimiliki boneka porselen lainnya. Segumpal daging yang berdegup kencang dibalik rusuknya. Segumpal daging yang merasakan apa yang dirasakan ibunya saat Beliau sedih. Segumpal daging yang mengharapkan kenyataan. Segumpal daging yang dinamai hati.

Manika begitu rapuh. Ia begitu kecil untuk menikmati segala perpecahan ini. Manika masih terlalu kecil untuk merasakan sakit dalam hatinya. Terlalu kecil untuk merasakan rindu kepada orangtuanya. Kupeluk Manika dan kugendong ia. Kutepuk-tepuk punggungnya perlahan, sebagai tanda maaf, kukecup keningnya.

“Manika tidur sama teteh aja ya”, ucapku sambil berjalan keluar kamar.

Kunyanyikan nina-bobo kecil untuknya. Ia membelai belai rambutku yang bergelombang. Manika sayang, manika sayang..

 

Please appreciate copyright.
You are not allowed to use the story
without my permission or linked otherwise.
picture was taken from Google.com