[Cerpen] Mimpi-Mimpi Ara

Posted on August 18, 2011

0


Mimpi-Mimpi Ara

Oleh: Nazta Saari

Dalam malam yang gelap mana kala mata tertutup rapat dan kesadaran mulai menghilang. Sebuah cahaya samar bersama kabut nan dingin membawa kita ke alam bawah sadar yang semakin dalam. Membawakan bunga tidur yang entah indah entah pula buruk.

Ara tertidur dalam gelapnya malam. Kakinya dijejalkan pada sepasang kaos kaki lusuh yang tebal. Kaos kaki itu terlihat hangat, kecuali dibeberapa sisi yang berlubang kecil-kecil. Meninggalkan dingin yang menusuk hanya pada titik itu. Tampak pula cuatan benang yang keluar jalur sebanyak lubang di kaos kaki. Tapi rasa itu tidak pernah menganggu tidurnya dan menghalanginya mendapatkan bunga tidur. Ara terlelap diatas dipan berbau lembap dan bantal berbalut kain kecokelatan. Disampingnya, tertidur sang ibu yang terlihat lelah tanpa henti mengelus punggung Ara. Sesekali ibu itu mengerjap, terjaga, dan melirik pada buah hatinya, Ara yang sedang bermimpi.

Mimpi yang baik pasti. Wajah Ara malam ini terlihat seperti disinari cahaya rembulan. Cerah dalam benaman gelap malam. Tawa tanpa suara, senyum lebar yang kadang memperlihatkan gigi-gigi susunya sering terlihat disela tidurnya.Mimpi yang indah, anakku, ucap sang ibu dalam hatinya.

Hari ini sangat lelah, setelah mengais sampah, kau ikuti aku menuju persimpangan kumuh, menukar berpuluh-puluh botol bekas dengan dua ribu lima ratus rupiah. Kau hampiri aku dengan senyum penyemangatmu. Dua ribu lima ratus rupiah, begitu sulit mencarinya, masih belum cukup untuk memberimu makan esok. Bermimpilah sayang, bermimpilah jika itu membuat senyummu semakin melebar.

Seperti mengetahui suara hati sang ibu, Ara berhenti tersenyum. Ringisan kecil perlahan mengubah air wajahnya menjadi kesedihan yang dalam. Ara sesegukan tanpa air mata yang keluar dari dua belah matanya. Sang ibu, mengelus punggung Ara dengan lembut, jangan menangis anakku, ini semua hanya mimpi, mimpi yang akan kau lalui.

Anggaplah ini mimpi karena tak ada yang nyata didalamnya. Anggaplah semuanya mimpi manakala buruk yang kau terima, sakit yang kau rasa, dan yakinlah bahwa kau bisa menghadapi mimpi burukmu ini. Mimpi ini akan cepat berlalu anakku. Kau akan tumbuh besar dalam lindungan Yang Maha Esa. Kau akan tumbuh besar sebagaimana yang engkau harapkan, menjadi berlian diantara bebatuan.

Ara tersenyum. Dalam mimpi Ara, ia berdiri berhadapan dengan sebuah pohon yang besar. Besar sekali. Dahan-dahannya yang kokoh seperti mampu menahan puluhan buah ranum yang besar. Daunnya sangat lebat dan juga hijau menyala. Tiap helai daun tidak ada yang berlubang. Buah yang bergelantungan pun sangat banyak macamnya. Ara melebarkan mulutnya perlahan. Ia sangat ingin mencicipi buah dari pohon itu. Namun tidak ada siapapun yang dapat dimintai izin memetiknya. Tidak ada seorangpun disana. Bahkan rumahpun tidak ada. Pohon itu sepertinya tumbuh sendiri disebuah padang tandus tanpa ada yang merawat. Pohon itu seperti berdiri kokoh disana dan hanya untuk Ara. Pohon milik Ara seorang.

Ara melangkahkan kakinya mendekati pohon besar itu, ia berniat memanjat batang pohon yang berlubang. Namun alangkah terkejutnya Ara begitu tidak sengaja melihat kedalam  lubang pohon. Semut-semut kecil bermahkota, bersama para belalang dan cacing-cacing. Tikus serta kelinci berpesta didalamnya. Dihadapan mereka, tersaji hidangan-hidangan yang membuat mereka bergembira, namun tidak bagi Ara. Hidangan didalam lubang terlihat begitu berlawanan dengan hidangan diluar lubang. Buah buah kering dan menguning, biskuit-biskuit berlubang dan bau, sangat berbeda dengan buah-buah yang bergelantungan dipohon itu. Ara mengernyit saat melihat hidangan tak layak santap itu masuk kemulut hewan-hewan mungil itu. Ibu sendiri tidak pernah memberikan Ara makanan seperti itu.

Ara mengernyit. Ada sentilan nakal dalam hatinya untuk memberi mereka buah dari atas pohon, namun ketika kaki Ara melangkah menapaki sebuah lubang kecil, angin dingin yang kencang datang. Membuatnya menjauhi pohon itu. Angin itu begitu dingin dan mencekam. Berputar-putar dengan warna putih yang begitu menakutkan. Mengelilingi pohon besar itu, membuat Ara ketakutan. Mengelilingi pohon besar itu hingga pohon itu tertutup putihnya angin. Ara ketakutan. lebih ketakutan lagi saat pohon itu terbang melayang dan menghempas ke bumi dengan debaman keras dan cahaya ungu berkilauan. Tapi pohon itu tidak lagi sama. Daun-daun menguning dan sangat sedikit. Rantingnya rapuh dan buahnya habis sama sekali. Hewan-hewan kecil keluar dari lubang dan memandang pohon besar, namun sepertinya sudah biasa, mereka kembali memasuki lubang pohon.

Ini hanya mimpi, sayang, suara itu datang menenangkan Ara. Lalu ia berputar-putar tanpa ia ketahui. Dan ketika ia sadar, sang ibu telah sepenuhnya tertidur disisinya. Ara mengusap lembut pipi sang ibu dan memeluknya lembut. Dalam hati, ia bersyukur, memiliki sang ibu bukanlah mimpi yang cepat berlalu. Tinggal digubuk bersama sang ibu bukanlah mimpi yang cepat berlalu. Ara bersyukur dalam hatinya yang terdalam.

Please appreciate copyright.
You are not allowed to use the story
without my permission or linked otherwise.
Picture was taken from Google.com