Ramadhan, Mengingatkanku Kepada Papa

Posted on August 15, 2011

1


Dulu, Lebaran selalu identik dengan pakaian-pakaian baru berbau pabrik dan pewarna. Lontong-lontong dan ketupat yang bergelantungan. Opor ayam dan rendang lengkap dengan sayur labu tersedia diatas panci besar. Serta kue-kue kering buatan mama yang ditata dnegan rapi dimeja ruang tamu. Tapi sekarang keadaan berubah.

Sekitar 7 tahun lalu, kami pindah kerumah yang sekarang kami tempati. Semenjak kepindahan kami, pada hari perayaan seperti Idul Fitri atau tahun baru, rumah kami selalu penuh dengan kunjungan. Maka tidak heran rumah kami dipenuhi benda-benda pendukung seperti yang sudah ku tulis. Selesai sholat Ied, rumah kami langsung dipenuhi kerabat yang tinggal disekitar rumah kami, para tetangga. Bukan hanya bersilahturahmi, tetapi juga makan-makan. Ini kegiatan rutin yang kami lakukan semenjak kurang lebih tahun ke 3 kami menempati rumah kami. Rumah kami selalu penuh di pagi hari Idul Fitri. Orangtuaku tergolong orang yang dituakan didaerah ini. Tidak heran banyak orang mengunjunggi kami lebih awal. Setelah itu baru kami berkeliling ke rumah tetangga lain yang belum bertemu. Setelahnya baru kami pergi kerumah sanak saudara kami yang agak jauh.

Lebaran yang telah lalu rasanya begitu hangat dan penuh. Tapi sejak setahun yang lalu. Semenjak papa kami meninggalkan kami selama-lamanya, perbedaan yang terasa begitu dominan. Mama tidak lagi memasak dalam jumlah besar. Lontong atau ketupat tidak tersedia. Hanya ada sayur-sayur untuk tahun lalu. Setelah sholat Ied, kami langsung pergi kerumah sanak saudara kami yang tinggal di Jakarta. Itu berbeda dan aku sedikit canggung dengan perbedaan ini.

Tahun kali ini pun nampaknya berbeda. Mama berencana untuk menghabiskan waktu lebaran dirumah saja, dan mungkin tidak ada masakan-masakan khusus. Aku bisa membayangkan betapa sepinya rumah kami nanti.

Tapi bukan itu yang ingin kusampaikan, walau ada keinginan besar dalam diriku untuk membangkitkan lagi kebiasaan kami dahulu. Tapi aku tahu itu tidak bisa serta-merta kulakukan. Baru aku sadar bahwa lebaran, Idul Fitri, bukan berarti pakaian baru, ketupat sayur dan opor, kastangel dan nastar, amplop berisi sejumlah uang dan tamu yang tak ada habisnya. Idul Fitri adalah hari dimana kita kembali ke fitri, kembali suci. Maka sebenarnya itu semua tidak begitu penting. Maka akupun bangkit dan berkata pada diriku sendiri “Lebaran tahun ini pun asyik”.

Meski begitu, ada sebuah rasa dalam hatiku yang sepertinya tidak bisa pergi dan mengendap begitu saja. Membuat hatiku seperti membengkak dan bahkan mataku sering kali basah karenanya. Sebuah rasa yang lebih besar. Jauh lebih besar dari rinduku dengan kebiasaan itu. Rindu yang melebihi semuanya, yang membuatku sedih setiap kali sendiri datang. Rasa rindu terhadap sosok papa. Seorang Ayah yang selalu menggandeng lembut tanganku setiap kali kami pergi. Papa yang selalu berjalan perlahan dengan kaki panjangnya dibelakang kami, sedang mama berjalan dengan langkah kecilnya yang cepat jauh didepan kami. Aku baru saja berpikir tentang papa, papa selalu melakukan hal yang serupa setiap tahunnya.

Malam takbiran kami dihabiskan dirumah. Biasanya beberapa waktu kami mematikan televisi sambil mendengarkan sayup suara takbir yang sepi dari masjid didekat rumah. Papa dan mama selalu membiarkan kami dalam suasana kami masing-masing, kami hampir tidak pernah mendengarkan takbir bersama disuatu tempat. Aku dikamarku biasanya. Kadang, adikku akan mencoba beberapa potong pakaian barunya dan memamerkannya. Malam sedikit, papa mulai mengambil lap pembersih dan mulai membersihkan rumah kami. Sementara mama mulai menghangatkan makanan-makanan, memastikan hidangan lezat itu tidak basi. Aku tertidur cukup malam biasanya. Sekitar jam 11. Lalu ketika bangun, aku bisa mendengar suara takbir yang asing. Suara dari kaset yang papa setel. Entah itu dari DVD-player atau mungkin dari pemutar kaset pita. Lantunan takbir itu berlangsung lama hingga kami semua siap untuk sholat Ied. Kami mengunci pintu. Papa dan mama biasanya membawa beberapa potong koran untuk alas sajadah kami. Kami pulang bersama-sama setelah sholat. Naik mobil ataupun jalan kaki, kami biasanya bersama-sama. Setelah itu, rutinitas lama tadi berlangsung. Disetiap lebaran 3 tahun terakhir aku selalu membuat permen cokelat manis untuk anak-anak kecil yang datang kerumah kami. Bungkus permen cokelat itu biasanya memenuhi jalan-jalan. Lalu kami biasanya pergi kerumah sanak saudara kami. Saudara mama adalah yang pertama. Lalu satu persatu kerumah saudara papa.

Aku rindu kebiasaan itu. Tapi aku lebih rindu lagi dengan papaku. Aku tidak pernah terlalu akrab dengannya tapi ia selalu mencoba merangkulku. Temanku, dimana aku bisa mendapatkan ilmu yang selama ini belum pernah kudapat degan ketenangan. Papaku adalah sosok yang sangat  kurindukan. Kepergiannya memberikan perubahan besar dalam hidupku. Satu tahun belakangan ini, setiap kali aku bangun dari tidurku, aku merasa seperti berada dalam mimpi. Mimpi yang sangat panjang dan begitu nyata tentang hari-hariku setelah kepergian papa. Rasanya sangat sepi. Sangat menyakitkan kehilangan papa. Setiap malam, rasanya hatiku menunggu ‘pulang’nya papa kerumah kami. Setiap hari, aku selalu berharap dan selalu menyangka bahwa papa sedang pergi dinas keluar kota. Papa akan pulang dengan membunyikan klakson mobilnya begitu ia berada didepan rumah. Mencuci mobil hingga sangat malam. Membaca Al-Qur’an dengan suara lembut dan tenangnya setelah sholatnya. Papa papa papa. Aku merindukannya.

Saat ini, rasa rinduku membuncah-buncah. Sepertinya tidak sanggup lagi aku menampungnya. Lalu saat menyadari aku berada didunia nyata, tidak ada yang dapat kulakukan selain menahan tangis, selain berdoa demi keluarga kami dan papa, selain memperbaiki diriku, agar mamaku bangga kepadaku. Agar mama dan adikku, Kiza bahagia kelak.

Ramadhan mengingatkanku kepada papaku. Banyak mengingatkanku kepadanya. Dalam sebuah tangisnya, ia meminta aku untuk rajin mengaji. Aku sangat-sangat merindukannya. Hanya rasa rindu yang ada dalam postingan kali ini. Karena aku tidak bisa mengungkapkan rindu ini kepada siapapun kecuali Allah swt, dan mungkin pembaca blogku yang tidak kukenal.

Aku berpesan, sayangilah orangtuamu. Kamu tidak akan pernah tahu, sampai kapan mereka ada, sampai kapan mereka menemanimu, sampai kapan tangan lembut itu memelukmu. Kamu tidak akan pernah tahu, sampai rindu itu datang menyergapmu..