Serpihan Masa Lalu

Posted on May 30, 2011

2


Sejujur-jujurnya aku lagi suntuk banget karena tugas. Sebenarnya aku nggak mau mengeluh. Aku juga berusaha untuk tidak mengeluh. Karena kalau mengeluh terus aku sadar benar pekerjaan nggak akan selesai dengan baik, padahal kan aku juga yang lainnya pasti pengennya selesai dan hasilnya memuaskan.

Konser ke2 ku

Inti dari postinganku kali ini bukan tentang tugas, melainkan hobby lamaku yang sudah lama sekali tidak tersentuh dan kejenuhan.

Saat aku berulangtahun yang ke 11, yaitu sekitar 7 tahun lalu, aku mendapat hadiah yang pertama kali mendapatkannya aku sendiri tidak tahu harus aku apakan. Sebuah gitar dari papa. Hari-hari berikutnya, papa dan mama membelikan aku buku-buku kunci gitar yang sama sekali tidak kusentuh karena memang awalnya aku nggak tertarik sama sekali dengan alat musik yang satu ini. Tapi lalu papa dan mama mendaftarkan aku ke Purwacaraka Music Studio Cibinong.

Ini kali kedua papa dan mama berusaha ‘menjerumuskan’ aku kedalam musik. Pertama kalinya adalah ketika aku kelas 4 SD. Beliau mendaftarkan aku les vocal cukup lama, sampai kira-kira 4 tahun. Tapi tidak seperti sebelumnya, aku menyukai gitar. Rupanya memainkan alat musik lebih seru dari pada medengarkannya. Main alat musik bagiku lebih mengasyikan daripada sekedar bernyanyi.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana aku berkenalan dengan instruktur gitarku, Kak Wendy (Kak Wendy ini nama lelaki loh) dan bagaimana aku berlatih keras memetik senar gitar sampai akhirnya aku mengikuti konser pertamaku. Dikonser itu aku bermain bersama teman-teman lainnya, murid Kaka Wendy. Kami seharusnya memainkan 2 buah lagu, tapi saat itu yang jadi kami mainkan hanya 1 buah lagu. Pertama kalinya aku berada diatas panggung memegang gitar dan rasanya luar biasa. Walaupun deg-deg-an dan sempat gemetar tapi aku menikmatinya. Malah setelahnya aku ingin ikut konser lagi.

Tapi adakalanya aku bosan dan jenuh dengan musik. Yaitu saat bermain musik menjadi suatu kewajiban. Saat latihanku mulai mengendur dan prestasiku menurun. Saat halaman partitur tidak bergerak dari sana dan ujian semakin dekat. Rasanya tiap datang waktu les aku jadi lemas dan malas. Setiap bangun tidur yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya aku bisa lulus dari halaman yang satu ke halaman yang lain? Bagaimana aku melewati latihan demi latihan sehingga aku mahir? Dan banyak sekali tanda tanya yang membuat aku takut. Aku rasa seperti itulah yang aku rasakan sekarang, saat tugas-tugas kampus menyerangku.

Tapi saat ini justru aku rindu dengan segala berbau musik itu. Karena dulu setiap minggunya selalu ada satu hari penuh dengan musik. Aku juga pernah bermain piano, walau belum pernah konser didepan orang banyak dengan pianoku, tapi aku menyenanginya. Karena instruktur piano-ku, Kak Bowo adalah seorang yang mahir mendentingkan tuts piano. Aku rindu saat-saat itu semua. Aku ingin kembali kemasa lalu dan kembali bermain musik.

Sekarangpun aku masih bermain musik, kadang musik bisa membuat aku senang, menghibur diriku saat aku frustasi dengan tugas-tugas. Tapi rasanya tetap berbeda. Aku ingin bermain musik layaknya dulu. Diruangan sempit yang dingin kedap suara, dengan bau serpihan kayu bercampur dengan lembab kain. Rindu sekali…

22 September 2006, konser pertamaku

Posted in: Heart and Others