We Used To Be Three

Posted on December 18, 2010

2


Tentang para sahabat yang aku temukan dimasa SMA, bukan hanya COLAPS. Mereka memang menjadi bagian berharga dalam diriku, tapi ada orang-orang lain diluar COLAPS yang membuat aku semakin mengerti bahwa nggak ada yang abadi didunia ini, termasuk itu persahabatan. Persahabatan adalah sesuatu yang rapuh, yang selalu dipertahankan oleh setiap orang, yang seharusnya bisa menjadi abadi. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, sahabat itu manis, tapi bisa juga menjadi pahit. Bahkan ada yang berkata bahwa sahabat bisa menjadi musuh terbesarmu. Well, aku harap persahabatanku dengan siapapun tidak akan menjadi musuh terbesar.

Seperti yang tadi sudah aku tulis, persahabatan itu rapuh. Yang ada adalah orang-orang yang mencoba mempertahankan kerapuhan itu. Ada yang bertahan sampai akhir dan mempererat persahabatan mereka, ada pula yang gagal, dalam kasus ini, persahabatan tidak selalu berakhir indah.

Manis memang memiliki sahabat, itu yang aku rasakan dengan kedua teman dekat yang kudapatkan dimasa SMA. Merekalah Laras dan Bella. Keduanya menjadi orang terpenting bagiku, saat keduanya mau mendengar seluruh keluhanku, mengingatkanku bahwa aku salah dan mendukungku melakukan hal yang benar. Memecahkan masalah, dan mengobrol bersama. Kami hampir tidak memiliki foto bertiga bersama yang lengkap (aku tidak punya ;( ) . Tapi kami selalu bersama. Sepulang sekolah, waktu istirahat, jeda sebelum masuk sekolah, kadang-kadang kami pulang bersama setelah sebelumnya mengunjungi tempat les musik kami. Kami membuat janji disana, mengobrol sambil memainkan alat musik apa saja yang ada disana. Yang bisa kami mainkan maupun yang tidak bisa kami mainkan. Kami bertambah dekat sewaktu tempat les kami menyatukan kami dalam sebuah band (bukan band yang bertahan lama, dan bukan band yang serius bagi kami, tapi aku selalu mengenangnya). Apa yang kami perbincangkan? Banyak. Musik, ya selera musik kami tergolong yang berbeda. Bahkan diantara kami bertiga memiliki perbedaan. Aku suka sesuatu yang easy listening, lebih condong ke lagu asia, lagu mandarin, korea, sesuatu seperti lagu lama, dan sedikit seperti U2 (aku adalah penggemar berat Bono!🙂 ). Bella lebih menyukai sesuatu berbau klasik. Eropa. Sesuatu seperti Il Divo, soprano (iya kan?), Itali, Spanyol. Bella selalu tahu dan sangat mengagumi Il Divo. Laras selalu menyukai yang keras. Rock. Tapi aku rasa Laras tidak suka sesuatu yang scream seperti alessana (iya kan?). Tapi kami selalu bisa menyatukan semuanya! Lagu yang paling mengingatkanku kepada mereka adalah Lemon Tree.

Tapi mungkin kisah kami bertiga tidak berakhir manis. Ya, kisah kami memang belum berakhir, tapi setidaknya, hingga tanggal postingan ini kubuat, kisah itu tidak terlalu manis.

Sebuah masalah memecahkan kami. Kami tidak terpecah menjadi tiga, menjadi dua. Seperti dua diantara kami memperebutkan yang satu, seperti dua diantara kami memiliki masalah besar yang tak terpecahkan sementara satu diantara kami selalu mencoba menempati tengah kami. Bukan pisah secara keseluruhan. Pada awal perpisahan memang kami sering bersikap seperti anak kecil (aku minta maaf banget dengan hal ini), kami bersifat seperti kami tidak pernah kenal tapi sekarang tidak begitu. Kami sering bertemu di facebook, twitter, dan bahkan membuat janji (yang kalau itu pertemuan bertiga belum pernah terwujud) bertemu. Tapi tetap berbeda, rasanya ada sesuatu yang mengganjal dipertemuan kami.

Tapi bukan itu yang ingin aku sampaikan. Bukan akhir pahit (karena memang kami belum berakhir, aku sangat mengharapkan akhir yang indah untuk kisah ini, karena bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang berharga dalam hidupku, orang-orang yang membukakan mataku tentang dunia ini, menyayangi aku apa adanya walaupun status ‘sahabat’ itu tidak melekat dalam pertemuan dan perbincangan kami). Tetapi semua tentang persahabatan. Bahwa kau tidak bisa kembali kemasa lalu dan memperbaiki kesalahanmu. Kau tidak bisa mengulangnya, memutar balikkan waktu seperti dalam film-film dan berada di dalam kondisi yang tepat dimana dirimu bisa mengingatkan dirimu dimasa lalu tentang kesalahan yang akan ia perbuat.

Persahabatan itu begitu rapuh, begitu sulit dimengerti, dipahami, tapi kalau kau bisa mempertahankannya, persahabatan itu akan menjadi sesuatu yang indah. Sesuatu yang bisa membuatmu bahagia.

Aku bersyukur pernah memiliki mereka, aku bersyukur pernah merasakan waktu-waktu bersama mereka bertiga. Walaupun yang tersisa sekarang hanya berdua (bertiga, aku merasa kami masih mempertahankan persahabatan yang sudah pecah itu, tapi pecah adalah pecah, dan pecah sulit untuk diperbaiki, aku merasa kami seperti sedang mempertahankan sesuatu yang sudah pecah sehingga perbincangan kami, jika aku dengan yang satu ini, aku akan menjadi canggung), bertiga, dengan kecanggungan. Aku berharap suatu saat nanti kami bisa berjalan bertiga mengelilingi toko-toko sambil mengenang semua yang indah. Memainkan alat musik yang tidak dapat kami mainkan dan hanya mengambil foto bersama alat musik itu. Hanya kami bertiga. Tanpa perbincangan yang membuat kami merasa canggung dan harus diam lamaaa.. sekali

Posted in: My Journal