Diperjalanan Pulangku

Posted on September 22, 2010

0


Pulang kuliah tadi, aku sengaja naik bus transjakarta dari Kampung Melayu. Awalnya, mau naik kenadaraan umum, tapi kali ini aku ingin coba ‘lebih akrab’ dengan perjalanan melalui Pasar Rebo. Seperti yang lain lakukan, hal pertama yang kulakukan begitu berada di halte Kampung Melayu, aku membeli karcis. Dipintu masuk, kulihat seorang ibu dengan dua anaknya yang masih kecil-kecil. Ibu itu berbicara dengan nada tinggi, aku rasa bukan karena ia marah, tapi memang seperti itulah cara bicaranya. Aku tidak memperhatikannya lebih lanjut, karena aku buru-buru ke terminal tempat menunggu bus jurusan Kampung Rambutan.

Ternyata ibu tadi naik bus yang sama dengan ku. Bus itu tadinya ramai, hanya saja beberapa orang ada yang memilih turun setelah mencium bau-bau gas (ternyata bukan bau gas).

Begitu ibu dan dua orang anak itu naik, mereka sudah menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, ibu itu naik ke bus dengan suara berisik dan anaknya yang paling kecil langsung berlari kesana-kemari. Lalu ibu itu berteriak. Bukan tipe ibu seperti halnya di iklan TV. Ini tipe ibu pada umumnya. Seorang ibu yang mau mengajak anaknya jalan-jalan. Dan mungkin saja itu kali pertama bagi anak-anaknya naik transjakarta.

Anaknya yang paling kecil sangat lucu. Berlari kesana-kemari, berteriak-teriak (sebenarnya hal yang ia lakukan sangat mengesalkan, tapi anak itu benar-benar lucu).
Seperti yang aku bilang, sebenarnya anak-anak itu mengesalkan. Dan beberapa orang terlihat ada yang kesal dengan mereka yang berisik.

Bus transjakarta melaju menuju tidak terlalu cepat. Sementara si anak kedua itu loncat kesana kemari dan berteriak-teriak, duduk seorang bapak disampingnya. Bapak yang baik yang awalnya terganggu dengan kedua anak itu. Tapi akhirnya bapak itu menjadi prihatin atas kondisi anak itu. Banyak pertanyaan yang bapak itu ajukan kepada si ibu dan dijawab seenaknya saja, tapi dari jawaban itu, kisah-kisahnya terdengar jelas.

Bahwa memang benar ibu itu jarang membawa pergi anaknya untuk jalan-jalan dan bahwa ayah anak itu telah meninggalkan mereka. Ayahnya pergi entah kemana.. Ibu itu hanya bilang “Kalo cerei yaudah kitamah kawin lagi, gampang aja”. Perjalanan ibu dan dua anak itu berakhir di Cililitan. Mereka turun disana.

Hari ini aku berterimakasih sekali kepada Allah, karena mataku telah dibukakan lagi, untuk kesekian kalinya aku diingatkan lagi, agar tidak selalu bersedih. Karena hidup ini memiliki jalannya sendiri. Semoga kalau sudah besar nanti, kedua anak itu bisa mejadi seorang yang dapat membahagiakan ibu mereka, amin😉

Tagged: ,
Posted in: My Journal