COLAPS, A Beautiful Friendship Start Here..

Posted on July 28, 2010

2


COLAPS itu sebutan untuk kelasku. Aku lulusan bahasa . Dan di SMA itu, hanya ada satu kelas bahasa, ya COLAPS itu. Penggagas nama COLAPS itu sendiri teman kami, Annisa Aprilia Balqis. Dia bilang itu singkatan dari Comunity of Language People, karena biar nggak rancu (Kalo comunity of language people aja disebutnya COLAP dong) Icha menambahi S dibelakangnya. Walaupun teman kami bilang itu ejaan yang salah. XP

Di COLAPS ada 29 orang siswa. 24 perempuan dan sisanya lelaki. Bisa dibayangin dong betapa ributnya kami dikelas kalau nggak ada guru? Kami sekelas 2 tahun bukan berarti kami akur-akur aja. Apalagi isinya kebanyakan cewek, yang rata-rata kalau punya masalah sukanya mendramatisir, (aku salah satu yang suka ngegede-gedein masalah juga sih XD).

Dan yang rada aneh dari COLAPS (keanehan yang mungkin biasa ditemui tapi nggak tau kenapa jadi berresan banget di COLAPS) mungkin karena kami rata-rata cewek juga, kami biasa manggil satu sama lain pake ‘sayang’, ‘honey’, dan yang lain yang biasa dipakai orang pacaran. Tapi kami suka. Beberapa diantara kami malah sudah ada sebutan internasionalnya (dikatakan begini soalnya bukan cuma aku aja yang manggil, tapi semua anak COLAPS, guru SMAN 1, dan bahkan murid dari kelas lain). Kayak sebutan mamih buat Rian Wismiati, Yullia far away (ini biasanya Lisa yang manggil) sebutan buat Yullia Farwati, dll. Kami bahkan bikin couple sendiri. Yang rata-rata cewek sama cewek. Tapi bukan berarti kami lesbi atu apa, karena kami cuma mainan aja, bercanda.

Aku punya papa dan mama dikelas, jangan kaget, karena keduanya cewek. Cuma aja yang satu mirip cowok.😄

Mungkin udah dari sananya kelas bahasa adalah kelas yang paling berisik. Buktinya waktu kita pertama kali masuk ke kelas bahasa aja, beberapa yang nggak saling kenal sok-sok kenal dan jadi berisik. Kalau kami sudah kumpul, ngobrol, dan ketawa kami paling nggak bisa dihentiin dan dikontrol XP.

COLAPS itu istimewa banget. Awal masuk COLAPS, aku anggap kelas ini biasa aja. Malah berisik banget. Karena emang tadinya aku nggak terlalu suka berisik, eh tapi lama-lama malah aku sendiri yang kadang buat onar.

Bukan cuma having fun dan berisik-berisik aja yang ada di COLAPS. Kayak yang aku bilang tadi, kita juga kadang ribut, musuhan, marah. Dan kalau lagi marah, kami beragam. Ada yang marahnya diem aja kayak Hilda dan kawan-kawannya. Ada juga yang lempar-lempar benda kayak Dena (Dena ini cowok loh, nanti aku buat jurnal khusus buat memperkenalkan Dena dan teman temanku yang lain) dan Icha, ada juga yang kalau marah ke satu orang, marahnya kemana-mana, siapa juga yang ada ikut dimarahin, kayak aku.😄.

Jadi ingat waktu awal masuk COLAPS, nggak lama setelah itu ada insiden guru nggak mau masuk gara-gara dijudesin dan katanya nggak dihormatin sama murid bahasa. Guru siapa? Kalau teman-teman COLAPS yang baca post ini pasti tau gurunya deh. Ternyata guru itu tersinggung karena wajah Icha yang judes. Temanku Icha ini wajahnya memang judes dan garang. Kayak cowok. Tapi beneran deh, sebenernya Icha ini orangnya baik banget.

Masalah pertama antara kami yang menonjol banget muncul waktu lama kelamaan, masih di kelas XI, kami membentuk kelompok-kelompok sendiri. Aku sendiri kurang begitu mengerti mana saja yang disebut kelompoknya, tapi dari yang aku dengar sih ada kelompok anak lelaki, berempat aja, minus satu orang yang netral (kayaknya sih, soalnya dari yang kulihat satu orang ini main sama siapa aja kok), ahjussi kita, Yonathan. Ada juga kelompok anak berjilbab. Aku juga berjilbab, tapi katanya aku bukan termasuk kelompok ini. Karena kelompok ini isinya memang cewek-cewek berjilbab yang pendiam banget, kontras dengan kami-kami yang rame, selain itu mereka selalu dapat perhatian dari guru-guru. Adalagi kelompok barbie girl atau entah apa. Isinya cewek-cewek yang sukanya dandan (Maaf aku nggak tau sebutan asli kalian apa) tapi bagiku mereka keren. Walaupun kayaknya terlalu mengikuti tren sampai-sampai rambut mereka selalu berantakan (ini adalah hal yang selalu aku keluhkan ke Lisa, salah satu anggota kelompok ini yang cantik tapi sayang rambutnya amburadul, kata Lisa sih biasanya memang begitu, dan memang mereka kayaknya lebih cocok rambutnya begitu). Ada juga kelompok ceriwis yang ribut dan kelompok korea. Sebenernya bukan kelompok Korea hanya saja dua diantara kami sukanya kalau ketemu ngomongin korea terus (aku jadi ketularan) dan aku masuk di kelompok yang terakhir ini.

Adanya kelompok-kelompok ini bikin kami sempat rada renggang dan bahkan dimataku beberapa diantara kami saling iri. Mulai dari belajar kelompok, pasti kami milih dengan kelompok kami masing-masing, dan pasti ada aja sisanya yang nggak masuk kesini dan masuk kesana juga nggak. Sebenarnya kasihan juga ya, tapi memang pada kenyataanya seperti itu. Sampai guru kami turun tangan. Waktu itu kami sempet ribut masalah kelompok itu. Ada juga sih yang cuek-cuek aja. Masalah itu ujung-ujungnya malah jadi ribut antara kelompok cewek berjilbab yang tertutup banget dan nggak mau nerima orang dari kelompok lain sama kami sekelas.

Tapi Alhamdulillah masalah itu cepat terselesaikan dan kami kembali kompak. Buktinya masuk ke kelas XII kami bener-bener saling membantu. Kami belajar bareng, dan kalau ditanya, yang biasanya pelit bagi-bagi ilmu jadi baik banget dan ngebantu kita sampai paham. Bener-bener jempolan deh. Memang ribut-ribut kecil masih ada aja, tapi nggak besar dan kalaupun jadi masalah yang membuat kami sampai marah, itu nggak akan ngelunturin persahabatan kami. Setidaknya dimataku, persahabatan kita terus sampai nanti.

Aku ingat waktu senam. Sempat sedih juga nih, karena waktu latihan dirumahku nggak ada yang dateng. Dan kelihatannya pada nggak suka kalau ada acara dilaksanain dirumahku. Mungkin karena rumahku jauh kali ya, tapi kan aku sedih. Makanya setiap dateng senam aku jadi kayak anak rebel banget. Bandel dan susah diatur. Kadang nggak ikut latihan senam, maaf ya.

Setiap orang di COLAPS itu berkesan dan ninggalin kenangan tersendiri yang bikin aku nggak akan lupa sama mereka. Dan yang paling nggak akan aku lupa adalah mereka adalah orang-orang yang mau menerimaku apa adanya.

Hal yang paling berkesan dimataku adalah saat-saat waktu olahraga. Walaupun saat itu aku nggak terlalu suka, tapi aku seneng dan rasanya aku nggak mau deh ngelepasin COLAPS buat pergi jauh-jauh. Karena waktu olahraga, kita bukannya ribut karena sibuk sendiri atau berantem, tapi kita ribut karena sibuk saling mendukung dan saling bantu. Karena aku nggak cerdas dalam olahraga, jadi sebagian besar yang kulakukan sih cuma nyemangatin doang. hehehe😄. Tapi mereka membantuku dan membantu Cindy yang takut banget sama senam lantai jadi berani jungkir balik. Mereka sama sekali nggak merendahkan aku walaupun aku beda dan punya kekurangan. Ditempat lain belum tentu ada orang yang bakalan nerima aku kayak mereka.

Sempat ada rasa bersalah juga kalau sudah seperti itu, karena pada kenyataannya aku suka sebel dan bahkan bikin mereka sebel dan marah. Padahal mereka sudah baik sama aku. Tapi mereka adalah orang-orang yang berhati besar kok, buktinya mereka bukan, maksudku kami semua bisa selalu saling memaafkan.

Kami selalu ngelakuin semuanya bareng-bareng. Makanya begitu libur panjang dan nggak sekolah dan nggak ketemu kalian, aku jadi sedih banget. Kangen banget sama kalian..

Sekarang, murid COLAPS udah tersebar kemana-mana. Ada yang di Bandung, Bogor, Jakarta, Depok. Dan sekarang kami juga punya kegiatan masing-masing yang sama sekali berbeda. Ada yang kuliah (bahkan ada yang udah mulai kuliah, minggu lalu mereka yang udah kuliah kagi melaksanakan UTS malah, semoga sukses ya kawan), ada yang kerja, ada juga yang nganggur dulu setahun. Mau istirahat dari stress nya UN (padahal kan udah lama XD). Tapi dimanapun kami, aku dan mereka berada, aku selalu berrdoa semoga kami bisa menjadi yang terbaik, menjadi orang sukses. Jadi waktu ketemu nanti, kita sama-sama udah sukses. amin..

Kangen banget sama kalian..

Posted in: My Journal