Cerpen: Warisan

Posted on September 15, 2011

0


WARISAN

oleh: Nazta Saari

Aku menulis surat wasiat ini, dengan hati yang teramat berat.

Besar kemungkinan, hidupku tidak panjang lagi dan besar kemungkinan, tidak ada yang peduli dengan kepergianku. Aku tidak tahu, kapan aku akan pergi, karena Tuhan memanggilku tanpa peringatan. Tapi aku memiliki firasat, itu akan datang sebentar lagi

Harta yang kutinggalkan tidaklah banyak. Tapi aku tidak meninggalkan hutang. Aku tidak memiliki hutang kepada siapapun kecuali buku-buku yang tanpa sengaja kucuri dari pemiliknya dimasa lampau.

Surat ini akan dibaca oleh penerus-penerusku, oleh kerabat dan sahabat, oleh pekerja-pekerjaku, setelah aku tutup usia. Setelah aku menikmati kenikmatan madu-madu surga atau bahkan saat aku terperangkap dalam kobaran neraka, entahlah, aku tidak tahu. Aku mewariskan seluruh harta kekayaanku untuk pekerja-pekerjaku. Namun demikian, penerus serta kerabatku, tidak akan kubiarkan pulang dengan tangan kosong, Aku wariskan beberapa benda yang amat berharga untuk mereka yang kusebut dalam surat ini.

Aku meninggalkan harta terbesarku yang aku miliki untuk sanak saudara terdekatku, Adiba. Adiba, sahabatku yang lembut lagi manis, duduklah disampingku saat kau membacakan ini untukku dan dirimu sendiri. Aku percayakan engkau lidahku, karena kau pandai merangkai kata. Aku percayakan jariku karena engkau pandai memainkan benda. Aku percayakan telingaku karena kau pandai menyimpan rahasia. Ketiganya, aku tidak akan memberitahumu, dimana kuletakkan ketiganya, namun kau pasti tahu. Ketiganya, dikunci sedemikian rupa, hingga tidak ada yang bisa memasukinya kecuali aku, selama ini. Akan kuberikan kuncinya kepadamu, dengan harapan kau dapat menyocokkan ketiga kunci dengan pintu yang benar serta menjaga harta berhargaku, Lidah, Jari, dan Telinga.

Untuk putri kecilku, Ayu, aku percayakan engkau sebuah kotak kayu kosong yang mungkin sudah sering kau temui dimana-mana. Kotak itupun terkunci. Aku tidak akan memberikan engkau kuncinya, karena ku tahu, kau akan membiarkan kotak itu dalam ketamakan. Akan kuberikan kau petunjuk dimana kau akan menemukan kunci itu, dimana ia tidak akan terlihat sebelum ia melihat usahamu.

Sebuah mata kecil, yang dulunya membulat cantik dan merona itu pasti berdebu dibalik pigura cantik. Ia  menyimpan misteri, aku tahu, karena kecantikan yang luar biasa. Maka dari itu, kupercayakan cucuku, Lembayung untuk menyimpannya. Kau tidak bisa menjualnya, nak. Ini hanya sebuah mata yang dapat mengamatimu dan orang disekitamu, tapi ini adalah benda berharga pelukis keindahan. Kuberikan engkau sepasang mata indah seindah lukisan yang kuletakkan dibalik pigura emas didalam kamarku.

Dan terakhir, aku percayakan hatiku kepada kalian semua. Hati kecilku ini begitu rapuh, kau bisa mematahkannya dengan sekali ketuk, dan membaginya rata. Setiap serat dalam hatiku sudah terisi nama kalian semua. Inilah yang lebih berharga dibanding seluruh harta dan bendaku. Sebuah hati yang kucoba kujaga hingga tidak ada satupun yang menyentuh, namun masih saja bisa tersentuh. Aku letakkan hati ini jauh dilindungi rongga rusukku. Kalian dapat mengambilnya, kalian dapat melakukan apapun yang dapat kalian lakukan dengannya, tapi satu pintaku, ketuk, hanya satu kali saja.

Demikian kutulis surat wasiat ini. Kuakhiri dengan harapan aku telah membaginya dengan adil..

About these ads