Buku: To Kill A Mockingbird oleh Harper Lee

Posted on August 11, 2011

2


Aku baru saja menyelesaikan To Kill A Mockingbird. Satu-satunya buku karya Harper Lee yang juga melegenda dan mendunia. Ini pertama kalinya aku membaca buku ini. Sebenarnya sejak lama aku mengetahui buku ini, namun baru terpikir membacanya setelah akhir-akhir ini aku menyukai membaca buku terjemahan.

To Kill A Mockingbird

Penulis: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Bahasa: diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia
Tebal: 536 halaman
Penerbit: Penerbit Qanita, PT Mizan Pustaka
Edisi Gold, cetakan I, Oktober 2010

Melalui kacamata seorang gadis berusia 8 tahun, aku seperti diantar mengelilingi dan mengenal lebih jauh Maycomb Country ditahun 1930-an. Pemikiran Scout yang memiliki nama lengkap Jean Louis Finch yang polos terkadang bahkan membuat aku merenungkan berbagai hal. Scout dan kakaknya Jem, dibesarkan oleh ayah mereka, Atticus Finch dan pengasuh mereka yang berkulit hitam, Calpurnia. Dibesarkan oleh ayah yang memiliki profesi sebagai pengacara dengan pola pikir yang berbeda menjadikan dua bocah ini memiliki pola pikir yang berbeda pula.

Untuk ukuran anak berusia 8 tahun, Scout mengetahui lebih banyak dari yang seharusnya ia ketahui, tapi Atticus tidak pernah repot-repot menutupi hal yang sekiranya tidak lazim diketahui oleh putrinya. Ia berpegang teguh bahwa seharusnya seluruhnya adalah pembelajaran bagi mereka. Itulah mengapa penting menjawab yang sejujur-jujurnya saat anak-anak bertanya mengenai apapun.

Buku ini terbagi atas dua bagian, dengan total 30 bab didalamnya. Bagian pertama buku ini lebih menceritakan kebiasaan-kebiasaan serta pengenalan tokoh melalui kacamata Scout. Dimana ia lebih suka menghabiskan waktu bersama kakak lelakinya, Jem, melakukan hal-hal berbau lelaki ketimbang melakukan hal-hal yang bersifat perempuan. Kebiasaan-kebiasaan itu meliputi petualangan mereka ketika libur musim panas tiba, mencoba memaksa Boo Radley keluar dari rumah mereka hingga hari-hari pertama Scout melalui sekolahnya. Masalah yang membuat buku ini semakin seru mulai bermunculan dan semakin mencapai klimaks pada bagian kedua buku ini. Dimana ayah mereka menangani kasus seorang berkulit hitam yang mengubah segalanya. Atticus ditunjuk sebagai pembela Tom Robinson, seorang negro yang dituduh melakukan pemerkosaan dan kekerasan terhadap seorang kulit putih, Mayela Ewell. Bagian kedua, lebih membuatku antusias membuka lembar demi lembar buku ini. Apalagi ketika menghadiri pengadilan Tom Robinson.

Semua cerita renyah itu dikemas oleh Harper Lee dalam sebuah buku yang sarat akan makna, To Kill A Mockingbird. Harper Lee sendiri lahir pada tahun 1926 di Monroeville, Alabama dengan nama lengkap Nelle Harper Lee. Ia sempat belajar hukum di University of Alabama pada tahun 1949. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa To Kill A Mockingbird begitu kental dengan hukum dimana segala situasi diceritakan secara gamblang. To Kill A Mockingbird sendiri ia selesaikan pada tahun 1959 dan diterbitkan untuk pertama kalinya satu tahun kemudian (s9.com). Di biografi penulis pada buku To Kill A Mockingbird terbitan Qanita, Mizan, dijelaskan bahwa Harper Lee memiliki pribadi yang tertutup dan merupakan salah satu penulis yang membuat penasaran di abad 20.

Ada beberapa kutipan dalam buku ini yang aku sukai. Salah satunya adalah kutipan dari Jem Finch:

kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci (hal 431)

Dan kutipan lainnya yang menyambutku pada halaman pertama kubuka buku ini:

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” –¬†Harper Lee.

Link terkait:

Posted in: Book Review